Mulai dari kenali diri kamu, cukup satu kalimat

Waktu aku memutuskan untuk resign dan mulai intentional living, aku sadar sama satu hal, ternyata aku nggak kenal diri aku sendiri.

Aku hidup cuma untuk bertahan, bangun > kerja > jalan-jalan karena capek kerja > repeat.

Padahal kedengerannya (buat cari tau diri kita itu siapa tuh) simpel, tapi bikin kepala mau pecah rasanya, malah overthink berlebihan.

Tanya aja LLM

Lalu aku tanya AI (atau aku lebih suka nyebutnya LLM), gimana caranya kita gali siapa diri kita tanpa perlu overthinking? Jawabannya cukup bikin aku impressed, katanya, mulai dari satu kalimat.

Satu kalimat yang mengubah hidup

Dan di sinilah aku sekarang, satu kalimat yang aku dapat adalah:

“ternyata aku sudah hidup cukup lama di dalam banyak tekanan untuk mengejar sesuatu yang cepat (which kerja sebagai software engineer lalu jadi AI harness engineer, berpacu dengan waktu), aku mau hidup lebih tenang dengan menikmati setiap moment

Dan ini mengubah keseluruhan hidup aku.

Hidup sesuai ritme

Akhirnya aku gali gimana caranya hidupku nggak lebih tertekan, lebih tertata, dan hidup sesuai ritme?

Sebagai perempuan yang punya siklus biologis, aku rasa bagian ritme ini perlu digaris bawahi supaya lebih tegas because it’s a real thing.

Second brain yang aku pakai sekarang

Dari sana lahirlah sistem hidup aku yang sekarang, aku pakai AI untuk mengelola second brain. Second brain ini aku pakai untuk bantu bikin konten di akun instagram suamiku. Aku yang buat content plan satu bulan, pecah dari perminggu, pecah perhari. AI yang nyimpen rapi (jangan pernah pakai AI buat generate konten atau akun kamu nggak akan grow).

Lanjut ke chapter berikutnya

Dan ini akan lanjut ke chapter berikutnya, kenapa kita harus kenali diri dulu, bukan tools-nya dulu?